21 Okt 2024

Dirikan Sholat yang terungkap dari AlQuran

 

Setiap diri yang dibacakan (diperjalankan)  , membacanya dan memahami   makna Sholat dari penjelas   AlQuran (Bacaan) bisa beragam ungkapan pahamnya.   Seperti  halnya ketika dibacakan   bacaan  perjalanan setiap diri , yang akan  membangun  paham  bacaan   perjalanan, sebagai arah pandangan  bagi perjalan diri dariNya.

 

 

Diri ini  menyadari bahwa istilah kata sholat  dalam AlQuran  yang   berjumlah 99  tersusun dalam ayat ayat (tanda tanda) petunjukNya.   Diri ini  mengalami fase  pencarian  pada petunjukNya, dan sempat abai ketika  memahami dirikan  sholat lebih percaya menurut katanya manusia, bukan dari tanda tanda petunjukNya , sehingga diri ini berada pada fase  percaya dan mentaati makna sholat menurut manusia , bukan menurut ayat ayat yang sesungguhnya terkandung makna  murni   tentang  paham sholat dariNya. Dia yang menyuruh perintah dirikan sholat ,  pasti Dia pun memberi petunjuk yang  jelas dan nyata (benar)  bahwa   perintah itu sesungguhnya perintah apa bagi kehidupan diri ini yang terlahir dimuka bumi ?

 

https://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=Slw#(9:11:4)

 

Jika 99 kata dalam semua ayat tersebut disusun,  dengan ayat ayat penguat lainnya, tentu  akan memahamkan sesuatu menurut AlQuran itu sendiri. Yang maknanya selaras dan sebangun dengan makna yang ada sebagai petunjuk  bagi manusia.

Ketika disebutkan istilah kata petir dalam AlQuran tentu kata itu nyata (benar) dan sebangun dengan yang ada di dunia nyata tentang petir, kejadian terbentuknya,  sifat dan wujudnya, yang memiliki makna ganda  wujud dan makna  kiasannya.  Sehingga untuk memahami AlQuran perlu untuk  meletakkan   terlebih dahulu semua bangunan pemahaman keyakinan tentang makna sholat yang sudah tertanam dalam diri, yang diperoleh dari luar AlQuran, karena pemahaman lama yang telah tertanam  dapat  membatasi bahkan   menolak ketika   diri  menerima bacaan AlQuran yang memberi pengertian yang berbeda dengan  bangun paham  yang telah tertanam sebelumnya. Sehingga sikap berserah diri dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa  melalui susunan  ayat ayatNya untuk membimbing menyusun bangun pahamNya itu sendiri akan menentukan seutuh dan semurni apa bangunan tempat sujud (masjid) itu terbangun dalam kolbu menjadi kiblat bagi arah pandangan diri.

AlQuran menyatakan bahwa AlQuran adalah petunjuk dirikan Sholat,

27 An Naml (1-3)

2 Al Baqara (2-5)

6 Al Anaam (59)

Jika AlQuran juga dimaknai sebagai Bacaan ayat ayat (tanda tanda) Allah yang terdapat dalam diri dan alam semesta, maka petunjuk dirikan sholat juga sebangun dan selaras terdapat didalam kehidupan nyata/ayat ayat yang nyata.

41 Fussilat 53

 

Maka apakah yang terungkap  perintah dirikan sholat didalam AlQuran ?

Dari  perjalanan  menyelami lautan puzle  ayat ayat AlQuran ,  struktrur  bangun paham tekait dengan  kata perintah  Dirikan  “Sholat”  baru  dapat terlihat jelas, dan  purnama, memiliki makna yang dekat dengan  makna   perintah Dirikan  “Bangun Paham Ayat Ayat Allah”. Dengan kunci  pembuka memaknai dirikan sholat dengan  Dirikan “Bangun Paham Ayat Ayat Allah”, maka semua ayat terkandung kata dirikan sholat menjadi bermakna petunjuk yang jelas bagi semua manusia , rahmat bagi semua alam, perintah tersebut dari yang dibacakan  diri ini tidak menemukan bentuk paham  perintah  dirikan /lakukan  ritual badan dengan bacaan tertentu berulang,  gerakan badan tertentu , berdiri, menunduk,  menelungkup,  duduk, menghadap arah objek benda  tertentu, dengan pembersihan   bagian tertentu dari  badan dengan basuh  air atau jika tidak ada air dengan  debu sebelum beritual.  

 

Maka dengan memaknai kata dirikan sholat dengan dirikan “Bangun Paham” yang tersusun dari ayat ayatNya, maka  semua Bacaan  ayat yang  terkandung kata Sholat akan terbangun pahamNya ,  menyusun sebuah makna yang saling menguatkan membangun sebuah bangunan  paham yang kokoh , susunannya menyusun paham yang disusun secara bertahap, dalam siklus siklus perjalanan waktu ,  menjadi petunjuk arah (kiblat) bagi perjalanan pertumbuhan jiwa yang mewujud dalam perbuatan taat pada pahamNya.

Kapan waktu  dirikan sholat ?

Apa bacaan  dirikan sholat ?

Bagaimana bersuci ketika dirikan sholat ?

Kemana arah kiblat ?

Maka Semua dibacakan dipahamkan   terperinci didalam AlQuran dan pasti maknanya juga akan sebangun dan selaras dengan ayat ayat  yang dibacakan dalam kehidupan kenyataan  (kebenaran) pada  diri dan disejauh penglihatan di semesta.

 

Kenapa paham berbangunan dan didirikan bangunan pahamnya  ?

Jika didalam dunia fisik susunan bangunan tersusun dari 3 dimensi Panjang, Lebar dan Tinggi, maka bangunan paham juga disusun dari 3 dimensi bangunan yaitu Penglihatan, Pendengaran dan Rasa.  3 Dimensi secara sempurna akan terbangun ketika paham diperoleh dari pengalaman, melakukannya.

32  As Sajda (9)

19 Yunus (61)

46 Al Ahqaf   (26-27)

 

 Seseorang dikatakan terbangun paham tentang  bersepeda, karena ia telah dibacakan bersepeda dan memahami dengan mengalami  bersepeda. Bangun paham tersebut tidak dapat dipahami dengan hanya membaca tulisan (hanya disusun dari satu dimensi  melihat). Kemampuan tubuh membaca keseimbangan bersepeda dalam  gravitasi bumi adalah kemampuan diri membaca yang dibacakan  dan   memahami.  Dunia barat mengenali cara belajar manusia melalui VAK (Visual, Auditory dan Kinesthetic).

https://www.apa.org/pubs/highlights/spotlight/issue-277

 

Ketika Bangun Paham Allah terbangun maka paham itu akan menumbuhkan imannya  (keyakinannya) akan suatu paham dan akan membuatnya ingatan. Ingat Allah tentu tidak sekedar bermakna mengingat kata Allah, tetapi memahami  keberadaanNya atas apa yang telah dibacakan, bacaan ayat ayat Allah yang dibacakan dan menjadikannya paham yang menumbuhkan iman yang menuntun laku hidupnya.   

32 As Sajda (9)

22 Al Hajj (46)

7 Al Araf (179)

 

 

Kapan waktu dirikan bangun paham ?

Diwaktu dua tepi siang dan awal malam. Waktu tersebut adalah kiasan bagi kondisi remang subuh menuju fajar terang atau maghrib menuju awal gelap,  menggambarkan suasana keraguan dan  kegelapan hati ketika tidak memahami sesuatu dari suatu periode peristiwa  perjalanan hidup, pencarian, yang bisa jadi keraguan dan kegelapan itu berdampak pada kondisi situasi beban hidup yang berat, kondisi sakit dari yang ringan hingga berat. Tingkat kegelapan yang tidak dipahami , bisa jadi 1/2 kegelapan, 2/3 atau 3/4. Allah mengetahui   kadar kadar  kegelapan seseorang,

 

Apakah Bacaan yang dibacakan dan yang   diperintah untuk bacalah  ketika diwaktu dirikan sholat. ?

Diwaktu itulah Tuhan berkomunikasi  membacakan Bacaan untuk dibaca dibangun pahamNya  atas paham yang belum diri pahami atau ragu. Dengan cara bagaimana ? Membaca atas apa yang dialami (dibacakan) dari yang mudah , bertahap dan tidak keburu langsung ingin tahu, Tuhan akan memahamkan bacaan sesuai tingkat kesadaran/kepahaman murni  seseorang, melalui berbagai peristiwa kejadian pengalaman hidup. Kalimat yang bisa disampaikan berupa wahyu (pengungkapan), melalui tabir kejadian /tanda , atau melalui Utusan yang menyampaikan wahyu.

Bacaan (AlQuran) itu adalah  Utusan (Rasul) dalam berbagai wujudNya yang  bisa berupa tulisan, ucapan, kejadian yang membacakan Bacaan.

Peristiwa apapun yang menimpa diri adalah bacaan dariNya yang dibacakan, apakah kemudian manusia mampu menangkapnya  , tergantung tingkat kesadaran manusia dalam membaca bacaan  setiap peristiwa yang dialaminya. Diperlukan daya kesadaran Ruh Qudus dan tunduk sujud-nya  nafs atau diri / jiwa kepada Ruh/ Kesadaran.

11 Hud (114)

73 Al Muzzammil (1-20)

29 Al Ankaboot (45)

17 Al Isra (14, 105-111)

41 Fussilat  (53)

81 At Takwir (19-21)

42 Ash Shura (51-53)

9 At Taubah (128)

2 Al Baqarah  (151)

 

Kemana hadap Kiblat ?

Arah pandangan dirikan bangun paham (dirikan sholat)  adalah kearah Bayt Allah , yaitu  bangun paham yang bersumber dari ayat ayat Allah yang dibacakan dari perjalanan diri dan disejauh penglihatan. 

 

10 Yunus (87)

2 Al Baqara  (115, 143-145)

17 Al Isra (14)

 

Bagaimana mensucikan diri (membersihkan diri) ketika dirikan bangun paham ? (dirikan sholat)

 

Bangun pahamNya, hanya dapat terbangun ketika diri ini menyadari sepenuhnya untuk berserah diri padaNya,  menundukkan, merendahkan , segenap jiwa, raga, dihadapan Yang Kuasa,  dan mempersilahkan dengan segenap lahir dan batin untuk  diperjalankan, dibacakan (ditiupkan  Ruh Kesadaran) hingga terbangun paham dari   Allah   dalam kolbu yang ada dalam dada,  menyempurnakan Penglihatan, Pendengaran dan Rasa. Pembimbing perjalanan jiwa dan raga.  Bangunan paham , Ruh Kesadaran terbangun berproses mengikuti waktu waktuNya  (gelap, ragu, terang)

 

Ketika sebuah pahamNya  terbangun kemudian jadikan paham itu air pembasuh mukanya (pandangan hidupnya) dan lepaskan pandangan lama yang yang masih melekat, ganti dengan pandangan yang baru ,  Jadikan pandangan baru  itu membasuhi karya karyanya (membasuh tangannya), dan jadikan pandangan itu arah perjalanan laku menuju kesadaran yang sejati (membasuh kakinya).

 

Jika dalam kondisi kotor , belum paham , bisa mengambil  prinsip paham  tanah , yaitu tanah yang baik, yang membuat tanaman tanamannya tumbuh subur.  Allah tidak mempersulit untuk manusia  pembersihan diri, Dia hendak menyempurnakan nikmatNya.   

Ketika bacaan diucapkan , tentu bacaan itu tidak dapat dimengerti ketika dalam kondisi mabuk (tidak sadar diri) , bukan karena alkohol, tapi karena telah minum  ajaran yang memahamkan sesuatu  yang menjadikan kiblatnya berbeda , sehingga  bangunan paham bacaanNya tidak dapat didirikan/dipahami.

5 Al Maeda (6)

4 An Nisa  (43)

7 Al Araf  (58)

 

Kenapa Dirikan sholat dan Tunaikan Zakat seringkali disebutkan    berpasangan dalam AlQuran,   dirikan sholat (dirikan bangun paham), dan tunaikan zakat (=tunaikan kemurnian/pembersihan, 24:21, 28,30 ).  ?

 

Pahami bacaan , dipahami dengan apa adanya (netral), tidak dikeraskan , ditinggikan atau direndahkan.

Ketika telah dirikan bangun paham apa adanya, lepaskan paham paham lama yang mengotori jiwa (Tunaikan pembersihan/pemurnian/zakat ) gantikan bangun paham lama dengan paham baru yang terbangun dariNya,  hingga paham  bertumbuh, Sehingga  dinyatakan dalam AlQuran sebagai kalimat yang  berpasangan Dirikan Sholat dan Tunaikan Zakat. Dirikan pahamNya dan bersihkan/lepaskan  paham  selainNya. Hingga paham yang murni itu menjadikannya  imannya, yang menuntun laku taat atas   dasar imannya.

 

Maka pertumbuhan bangun paham, dan pelepasan  paham lama/pembersihan paham (tunaikan zakat) akan menumbuhkan iman (keyakinan) kepada yang sejati , menjadikannya arah pandangan untuk laku taat (amal soleh), atas amal yang diperbuat akan dibacakan dan membaca sesuatu yang menumbuhkan bangun pahamnya     yang akan mewujud dalam wujud perubahan karakter diri, sifat   kemuliaan,   cinta kasih, adil, bijak, menolong , mampu melihat  atas apa yang terjadi (waskita), berdaya ,  mampu berjalan mengambil keputusan dengan tepat.

Siklus pertumbuhan jiwa terjadi berproses  yang membuat manusia berada dalam jalur garis edar siklus orbitnya “beriman, beramal soleh, dirikan sholat dan tunaikan zakat” (beriman, berbuat taat, dirikan bangun  paham , tunaikan kesucian/kemurnian) , yang akan membuat perjalanan jiwa tidak bersedih dan tidak khawatir, Sebagaimana kestabilan   orbit lintasan garis edar gelap terangnya  bumi  , garis edar bulan ketika  sabit dan purnama, dikegelapan bumi karena posisi bumi yang gelap malam tertutup oleh sebagian belahan   bumi itu sendiri dari   cahaya  matahari.   Dari iman yang sedikit, dijadikan iman itu laku taat atas apa yang di  imaninya, dari lakunya akan dibacakan  sesuatu yang menumbuhkan bangun pahamnya ketika paham itu dibaca dan didirikan dalam qolbunya , dan melepas paham lama diganti dengan paham baru , untuk memurnikan/membersihkan  jiwanya (tunaikan zakat), bangun paham baru  menumbuhkan imannya dan menjadi arah pandangan bagi laku taatnya, siklus berotasi, bertumbuh. Sebagai Lintasan Orbit pertumbuhan jiwa tidak bersedih dan tidak khawatir.  

2 Al Baqarah (277)

97 Al Qadr 1-5

 

 

 

Dengan dirikan bangun paham (dirikan sholat) ayat ayat Allah, kepahaman mengajarkan hal hal sebagai berikut :

 

-          mencegah perbuatan tidak bermoral dan melawan 29;45,

 

-          mengajarkan yang manusia tidak tahu 2;238-239

 

-          menyuruh untuk mengatakan tinggalkan  paham  nenek moyang 11;87

 

-          sholatnya penolongnya 2;45

 

-          sujudnya/taatnya  jiwa  pada apa yang   terkandung dalam AlQuran 84;21

 

-          dirikan bangun paham  diwaktu gelap, remang /ragu agar menjadi terpuji 17;78-79

 

-          sholatnya  untuk mengingat Allah 20;14,  yang diingat tentu bukan sekedar kata " Allah" tetapi  adalah  paham (Bayt)   Allah yang mewujud dalam berbagai wujud paham  Ketetapan dan Hikmah dari Allah  43;4, bersumber dari ayat-ayatNya 7;179, 22;46, dari yang  dibacakan, dibaca  dan dipahami 29;45

 

-          sholatnya menggunakan petunjuk  dari AlQuran 2;2-3, 27;1-3,

 

-           jangan sholat dimasjid   (jangan berpaham  di tempat sujud/taat) kemudharatan,  kekafiran, dan kemusrikan   9;107-108

 

-          sholatnya didalam tempat sujud/taat (masjid) yang dibangun sejak awal dengan  dasar takwa, yang  akan membersihkan hatinya dari paham kemudhararan,  kekafiran, kemusrikan,  membangun  keimanan dalam hati , bukan bangun keraguan hati 9;108-110, 2:127- 132, takwa=3:133-139

 

-          sholatnya menjadikan manusia berbuat kebajikan,   benar dan bertakwa 2;177

 

-          sholatnya  menyadarkan dirinya atas apa yang ia ucapkan/baca 4;43

 

-           ketika jiwa diperjalankan, tidak mengapa  sholatnya (pahamnya) sedapatnya (dari yang mudah) , jika ia kawatir kekafiran hendak  memalingkannya 4;101, karena kekafiran   dapat mamalingkan  , dan  langkahnya terhenti selamanya 18;20

 

-           sholatnya ketika memimpin   menyisihkan kekafirannya,  diperkuat (dipersenjatai) dengan ayat-ayatNya untuk penyadarannya dan ia sujud/taat kepada ayat-ayatNya,  maka ia (jiwa/nafs) akan berada dibelakangmu (mengikuti kepahaman baru kolbu/Qulb), kemudian  berlanjut dengan    yang belum sholat (belum paham) untuk dirikan sholat bersamamu, jangan lalaikan ayat-ayatNya (persenjataannya) , ingatlah selalu/jangan lalai (letakkan), kelalaianmu akan ayat-ayatNya menjadikannya rintanganmu (hujan) atau sakit 4;102, 73;20

 

-          ketika sholatmu (pahammu)  teguh  , ingatlah setiap saat, untuk  melandasi pandangan laku hidupmu, pendirianmu, kedudukanmu, pendamping/ pembimbingmu,  ketika berada ditepi (ambang kepahaman/keraguan, dua tepi siang/keraguan, tepi jurang kecelakaan)  22;11, 11;114, 9;109 dirikan sholat, sholat ditetapkan waktunya bagimu 4;103

 

-          Sholatnya di bayt (rumah) hanya siulan dan tepuk tangan , 8;35, sebagai sesuatu yang tidak bermakna , pahamnya tidak terbangun sebagaimana bangun rumah (paham) yang dibacakan atas dasar ayat-ayat nyata (benar),  yang dibacakan dari perjalanan hidupnya. Rumah tempat sujud (masjid) yang dibangun dengan pondasi takwa lebih layak untuk dirikan sholat (dirikan paham atas dasar ayat-ayat nyata bagi keselamatan  dirinya) 9;107-110

 

Ayat-ayat tersebut menyusun bangun paham bahwa sholat bermakna  paham, paham yang didapat dari ayat-ayatNya yang menyusun suatu keimanan/keteguhan hati berupa ketetapan (kitab) dan hikmah (kemanfaatan) kehidupan, yang ada dalam hati  untuk memerintah diri beramal, berbuat taat  , bukan menghadapkan wajah  ke arah mata angin barat/timur 2;177. Atau hal yang sia2 8;35.

Perintah dirikan sholat dan  tunaikan zakat, di perjalankan melalui pertumbuhan iman dan berbuat taat. Pertumbuhan iman dan berbuat taat membacakan bacaan yang menyusun bangun paham dan pensucian/pelepasan.

Proses tersebut menyatu  terlihat, terdengar dan dirasakan ketika angan pikiran, cipta, keinginan, perasaan diendapkan (ditunduk sujudkan) dengan kesadaran sikap Menerima atas semua kenyataan hidup  , dengan kesadaran bahwa apapun kenyataan (kebenaran) yang terjadi adalah Bacaan ayat yang sedang dibacakan, untuk dimengerti yang akan memberi petunjuk,  pandangan baru untuk ditaati.

Ia dapat berupa pengungkapan/wahyu dari Ruh perintah,  bacaan dibalik tabir (makna dibalik peristiwa), dan dari  utusan berbagai wujudnya  yang membacakan sesuatu.

Ketiga hal tersebut dapat diterima dalam kondisi hening  sedang apapun, tidur (mimpi), hening dalam duduk, berdiri, hening dalam  beraktivitas apapun.  Hening sebagai sikap yang didahului dengan sikap kesadaran pada tunduk sujudnya  jiwa pada Ruh Suci yang melihat, mendengar, merasa , membacakan sesuatu disetiap waktu.

Ketika  penerimaan itu diingat, dijalani dengan keberserahan diri , menentramkan, mendamaikan , kehidupan terfasilitasi, perjalanan tersupport,  maka dirikan pahamNya, lepaskan paham lama, tumbuhkan iman, jadikan ingatan yang menuntun laku.  

Namun jika sebaliknya paham dan lakunya  membuat kehidupan terpuruk, terhenti , buntu yang terjadi,  maka hening,  baca kembali, atas  tanda yang dibacakan untuk menerima kembali petunjukNya… Kondisi hening , dan  kemampuan  melihat bagi pembelajar , pejalan yaitu diwaktu tubuh tidak beraktifitas,   pikiran yang serba terbatas dan liar ditundukkan , diletakkan dengan Daya Ruh Suci (Kesadaran)  ,   dengan kondisi  senyamannya ketika tubuh tidak beraktifitas, bisa dengan  ketika duduk bersila, pejam mata, mempersilahkan sepenuhnya Ruh Suci  menguasai seluruh diri , menyatu terhubung dengan Ruh Semesta, Allah Tuhan Semua Alam. Dan Kondisi hening, dibawa ketika beraktifitas dengan kondisi  jiwa yang tetap  tunduk sujud ,   berjalan mengikuti kehendak dan kuasa    Ruh Suci, Kesadaran murni.

 

Dirikan bangun paham ayat ayat Allah yang dibacakan sebagai lintasan  jalan ketika Jiwa terlahir dimuka bumi yang di lengkapi dengan kelengkapan perjalanan    menyempurnakan jiwanya yaitu  Kolbu/Qulb (Ruh Kesadaran) sebagai  pasangan jiwanya (qulb dan nafs) yang mewujud dimuka bumi sebagai sosok diri ciptaan manusia. Yang diberi  kuasa  duniawinya masing masing  (JAGADnya)   yang setiap manusia tidak ada yang sama, namun mereka semua seJATInya adalah Ruh Kesadaran yang Tunggal  , sebagai umat yang Tunggal, yang   menjalani peran (LAKON)  sesuai  amanat jiwanya   terlahir dimuka bumi,  dengan  tugas misi jiwa dari  perintahNya  (TITAH) dari Ruh Suci untuk diperbuat dimuka bumi (LAKU). Jagad, Jati, Lakon, Titah, Laku, mewujud  dimuka bumi membawa amanat   MEMAYU HAYUNING BAWANA (Memperindah Indahnya Dunia) , atau dalam Quran memiliki keselarasan makna   Rahmat bagi semesta  alam, kelima hal yang  dikenal didunia spiritual jawa sebagai ka lima sada   ( sada= batang lidi/sapu lidi) , sebagai 5 pilar  perjanjian  misi jiwa ketika  manusia terlahir  dimuka bumi.  Kelima sada yang dekat dengan pengucapan Kalimat Syahadat, memiliki keselaraasan makna dari Kalimat Syahadat dalam AlQuran , sebagai ikrar perjanjian jiwa dengan Allah ketika terlahir dimuka bumi, Sebagai syahadat yang Tunggal. Tidak berganda.

6 Al Anaam 19 (Syahadat Tunggal)

7 Al Araf 172-179 (Syahadat Tunggal)

63 Al Munafiqoon 1-6 (syahadat berganda)

33 Al Ahzab 72

21 Al Anbiya 105- 112

 

Taati Allah dan RasulNya adalah perintah kepada yang Tunggal , bukan yang berganda (terpisah/berbeda). Karena Allah berkalimat kepada manusia melalui wujud  RasulNya yang membacakan ayatNya. Sebagaimana bulan yang menerangi kegelapan bumi, Cahaya itu dari sumber yang Tunggal  yang mengalir melalui pantulan perantara bulan. Cahaya kepahaman yang menerangi yang dipancarkan terkirim dibacakan melalui ayat ayatNya.  

 

3 Al Imran  32

42 As Shura 41-52

22  Al Hajj 75-78

 

 

 

Maka perintah dirikan sholat, sejatinya perintah untuk menyadari memahami perjalanan  kehidupan didunia ini terhubung manunggal  dengan bimbingan Ruh  Perintah dariNya.  Yang perintah  syariatNya kepada semua penyampai pesan Tuhan dan kepada  diri  adalah sama, dirikan din (sikap/karakter) , yang terbangun  dari bangun  pahamNya , dari susunan ayatNya berupa    KETETAPAN dan HIKMAH , sesuai dengan KETETAPAN waktuNya , bacaanNya , arah kiblat  bangun  pahamNya , kesucian/kemurnianNya  dan  jangan berselisih tentangnya.  KETETAPAN yang jika diperbuat  akan memberi  HIKMAH keberkahan  bagi kehidupan dimuka bumi. Ketetapan Archimedes , Newton, Faraday , E=mC2 , Pancasila,   Waktu dan semua Ketetapan Hukum Semesta kehidupan memberi Hikmah keberkahan keberadaan berbagai ciptaan dimuka bumi. Keberadaan ciptaan kendaraan mengarungi lautan atau udara adalah Hikmah dari KetetapanNya yang mewujud. Rotasi lintasan orbit terjadinya gelap, remang, fajar , purnama, sabit, sakit, sehat, sedih, bahagia , berhikmah memahami makna waktu waktu didalam  perjalanan, mengetahui waktu waktuNya. Siklus siklus AwalNya dan AkhirNya (akhirat), membangun pahamNya, melintasi garis edar perjalanan pertumbuhan jiwa.

18 Al Kahf  (65-82)

43 Az Zukruf (1-15)

 

Diungkapkan terdapat 10 karakter, perilaku , sikap manusia laki atau perempuan  yang dapat  membangun  , menumbuhkan kesadaran  , atas apa yang dibacakan   untuk    ampunan dan balasan yang besar.

33 Al Azhab (34-36)

2 AlvBaqara ( 277)

 

 

Semua yang mewujud pada setiap diri dan semua ciptaan dimuka bumi adalah BacaanNya (AlQuran)  , terkandung Ketetapan dan Hikmah,  Hukum  (Taurat) dan kabar baik (Injil) bagi semesta alam. Dibalik semua perwujudan terdapat tanda tandaNya  yang  memberi petunjuk bagi jiwa yang sujud terhubung  pada perintahNya. Perwujudan fenomena  Ombak, lautan , petir, kesedihan, kebahagiaan , waktu, adalah  Kalimat2 Agung dan Suci dari Nya yang membacakan tabir  bangun paham Ketetapan dan Hikmah dibaliknya, untuk dibaca , dipahami dan ditaati sebagai arah  kiblat menjalani perjanjian kelahiran  sebagai manusia ketika terlahir dimuka bumi.  

 

24 An Noor (39-57)

42 Ash Shura  (13 , 52)

2 Al Baqara (125, 187, 213, 277, 284-286)

5 Al Maeda (110-120)

33 Al Ahzab (35)

19 Maryam  (16- 34)

7 Al Araf  (144)

2 AlBaqarah (164)

30 Ar Room (17-60)

27 An Naml (46-93)

3 Al Imran (48)

31  Luqman (21-22)

 

 


 

 

 

 

 

 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar