Setiap diri yang dibacakan (diperjalankan)
, membacanya dan memahami makna
Sholat dari penjelas AlQuran (Bacaan) bisa beragam ungkapan pahamnya.
Seperti
halnya ketika dibacakan bacaan
perjalanan setiap diri , yang akan membangun paham bacaan
perjalanan,
sebagai arah pandangan bagi perjalan
diri dariNya.
Diri ini menyadari bahwa istilah kata sholat dalam AlQuran
yang berjumlah 99 tersusun dalam ayat ayat (tanda tanda) petunjukNya.
Diri
ini mengalami fase pencarian pada petunjukNya, dan sempat abai ketika memahami dirikan sholat lebih percaya menurut katanya manusia,
bukan dari tanda tanda petunjukNya , sehingga diri ini berada pada fase percaya dan mentaati makna sholat menurut
manusia , bukan menurut ayat ayat yang sesungguhnya terkandung makna murni tentang paham sholat dariNya. Dia yang menyuruh
perintah dirikan sholat , pasti Dia pun memberi
petunjuk yang jelas dan nyata (benar) bahwa perintah itu sesungguhnya perintah apa bagi
kehidupan diri ini yang terlahir dimuka bumi ?
https://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=Slw#(9:11:4)
Jika 99 kata dalam semua ayat tersebut
disusun, dengan ayat ayat penguat
lainnya, tentu akan memahamkan sesuatu
menurut AlQuran itu sendiri. Yang maknanya selaras dan sebangun dengan makna
yang ada sebagai petunjuk bagi manusia.
Ketika disebutkan istilah kata petir
dalam AlQuran tentu kata itu nyata (benar) dan sebangun dengan yang ada di
dunia nyata tentang petir, kejadian terbentuknya, sifat dan wujudnya, yang memiliki makna ganda
wujud dan makna kiasannya. Sehingga untuk memahami AlQuran perlu untuk meletakkan terlebih
dahulu semua bangunan pemahaman keyakinan tentang makna sholat yang sudah
tertanam dalam diri, yang diperoleh dari luar AlQuran, karena pemahaman lama
yang telah tertanam dapat membatasi bahkan menolak ketika diri menerima bacaan AlQuran yang memberi
pengertian yang berbeda dengan bangun
paham yang telah tertanam sebelumnya. Sehingga
sikap berserah diri dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa melalui susunan ayat ayatNya untuk membimbing menyusun bangun
pahamNya itu sendiri akan menentukan seutuh dan semurni apa bangunan tempat
sujud (masjid) itu terbangun dalam kolbu menjadi kiblat bagi arah pandangan
diri.
AlQuran menyatakan bahwa AlQuran adalah
petunjuk dirikan Sholat,
27 An Naml (1-3)
2 Al Baqara (2-5)
6 Al Anaam (59)
Jika AlQuran juga dimaknai sebagai
Bacaan ayat ayat (tanda tanda) Allah yang terdapat dalam diri dan alam semesta,
maka petunjuk dirikan sholat juga sebangun dan selaras terdapat didalam
kehidupan nyata/ayat ayat yang nyata.
41 Fussilat 53
Maka apakah yang terungkap perintah dirikan sholat didalam AlQuran ?
Dari
perjalanan menyelami lautan puzle
ayat ayat AlQuran , struktrur
bangun paham tekait dengan kata
perintah Dirikan “Sholat”
baru dapat terlihat jelas, dan purnama, memiliki makna yang dekat dengan makna perintah Dirikan “Bangun Paham Ayat Ayat Allah”. Dengan
kunci pembuka memaknai dirikan sholat
dengan Dirikan “Bangun Paham Ayat Ayat
Allah”, maka semua ayat terkandung kata dirikan sholat menjadi bermakna petunjuk
yang jelas bagi semua manusia , rahmat bagi semua alam, perintah tersebut dari yang
dibacakan diri ini tidak menemukan
bentuk paham perintah dirikan /lakukan ritual badan dengan bacaan tertentu
berulang, gerakan badan tertentu ,
berdiri, menunduk, menelungkup, duduk, menghadap arah objek benda tertentu, dengan pembersihan bagian tertentu dari badan dengan basuh air atau jika tidak ada air dengan debu sebelum beritual.
Maka dengan memaknai kata dirikan
sholat dengan dirikan “Bangun Paham” yang tersusun dari ayat ayatNya, maka semua Bacaan ayat yang terkandung kata Sholat akan terbangun pahamNya
, menyusun sebuah makna yang saling
menguatkan membangun sebuah bangunan
paham yang kokoh , susunannya menyusun paham yang disusun secara bertahap,
dalam siklus siklus perjalanan waktu ,
menjadi petunjuk arah (kiblat) bagi perjalanan pertumbuhan jiwa yang
mewujud dalam perbuatan taat pada pahamNya.
Kapan waktu dirikan sholat ?
Apa bacaan dirikan sholat ?
Bagaimana bersuci ketika dirikan sholat
?
Kemana arah kiblat ?
Maka Semua dibacakan dipahamkan terperinci didalam AlQuran dan pasti maknanya
juga akan sebangun dan selaras dengan ayat ayat
yang dibacakan dalam kehidupan kenyataan (kebenaran) pada diri dan disejauh penglihatan di semesta.
Kenapa paham berbangunan dan didirikan
bangunan pahamnya ?
Jika didalam dunia fisik susunan
bangunan tersusun dari 3 dimensi Panjang, Lebar dan Tinggi, maka bangunan paham
juga disusun dari 3 dimensi bangunan yaitu Penglihatan, Pendengaran dan Rasa. 3 Dimensi secara sempurna akan terbangun
ketika paham diperoleh dari pengalaman, melakukannya.
32
As Sajda (9)
19 Yunus (61)
46 Al Ahqaf (26-27)
Seseorang dikatakan terbangun paham
tentang bersepeda, karena ia telah dibacakan
bersepeda dan memahami dengan mengalami
bersepeda. Bangun paham tersebut tidak dapat dipahami dengan hanya membaca
tulisan (hanya disusun dari satu dimensi
melihat). Kemampuan tubuh membaca keseimbangan bersepeda dalam gravitasi bumi adalah kemampuan diri membaca
yang dibacakan dan memahami. Dunia barat mengenali cara belajar manusia
melalui VAK (Visual, Auditory dan Kinesthetic).
https://www.apa.org/pubs/highlights/spotlight/issue-277
Ketika Bangun Paham Allah terbangun
maka paham itu akan menumbuhkan imannya (keyakinannya) akan suatu paham dan akan
membuatnya ingatan. Ingat Allah tentu tidak sekedar bermakna mengingat kata
Allah, tetapi memahami keberadaanNya atas
apa yang telah dibacakan, bacaan ayat ayat Allah yang dibacakan dan
menjadikannya paham yang menumbuhkan iman yang menuntun laku hidupnya.
32 As Sajda (9)
22 Al Hajj (46)
7 Al Araf (179)
Kapan waktu dirikan bangun paham ?
Diwaktu dua tepi siang dan awal malam.
Waktu tersebut adalah kiasan bagi kondisi remang subuh menuju fajar terang atau
maghrib menuju awal gelap, menggambarkan
suasana keraguan dan kegelapan hati
ketika tidak memahami sesuatu dari suatu periode peristiwa perjalanan hidup, pencarian, yang bisa jadi
keraguan dan kegelapan itu berdampak pada kondisi situasi beban hidup yang
berat, kondisi sakit dari yang ringan hingga berat. Tingkat kegelapan yang
tidak dipahami , bisa jadi 1/2 kegelapan, 2/3 atau 3/4. Allah mengetahui kadar
kadar kegelapan seseorang,
Apakah Bacaan yang dibacakan dan yang diperintah untuk bacalah ketika diwaktu dirikan sholat. ?
Diwaktu itulah Tuhan berkomunikasi membacakan Bacaan untuk dibaca dibangun pahamNya
atas paham yang belum diri pahami atau
ragu. Dengan cara bagaimana ? Membaca atas apa yang dialami (dibacakan) dari
yang mudah , bertahap dan tidak keburu langsung ingin tahu, Tuhan akan
memahamkan bacaan sesuai tingkat kesadaran/kepahaman murni seseorang, melalui berbagai peristiwa kejadian
pengalaman hidup. Kalimat yang bisa disampaikan berupa wahyu (pengungkapan),
melalui tabir kejadian /tanda , atau melalui Utusan yang menyampaikan wahyu.
Bacaan (AlQuran) itu adalah Utusan (Rasul) dalam berbagai wujudNya yang bisa berupa tulisan, ucapan, kejadian yang
membacakan Bacaan.
Peristiwa apapun yang menimpa diri
adalah bacaan dariNya yang dibacakan, apakah kemudian manusia mampu
menangkapnya , tergantung tingkat
kesadaran manusia dalam membaca bacaan
setiap peristiwa yang dialaminya. Diperlukan daya kesadaran Ruh Qudus dan
tunduk sujud-nya nafs atau diri / jiwa kepada
Ruh/ Kesadaran.
11 Hud (114)
73 Al Muzzammil (1-20)
29 Al Ankaboot (45)
17 Al Isra (14, 105-111)
41 Fussilat (53)
81 At Takwir (19-21)
42 Ash Shura (51-53)
9 At Taubah (128)
2 Al Baqarah (151)
Kemana hadap Kiblat ?
Arah pandangan dirikan bangun paham
(dirikan sholat) adalah kearah Bayt
Allah , yaitu bangun paham yang
bersumber dari ayat ayat Allah yang dibacakan dari perjalanan diri dan disejauh
penglihatan.
10 Yunus (87)
2 Al Baqara (115, 143-145)
17 Al Isra (14)
Bagaimana mensucikan diri (membersihkan
diri) ketika dirikan bangun paham ? (dirikan sholat)
Bangun pahamNya, hanya dapat terbangun ketika
diri ini menyadari sepenuhnya untuk berserah diri padaNya, menundukkan, merendahkan , segenap jiwa, raga,
dihadapan Yang Kuasa, dan mempersilahkan
dengan segenap lahir dan batin untuk diperjalankan,
dibacakan (ditiupkan Ruh Kesadaran) hingga
terbangun paham dari Allah dalam kolbu yang ada dalam dada, menyempurnakan Penglihatan, Pendengaran dan
Rasa. Pembimbing perjalanan jiwa dan raga. Bangunan paham , Ruh Kesadaran terbangun
berproses mengikuti waktu waktuNya (gelap, ragu, terang)
Ketika sebuah pahamNya terbangun kemudian jadikan paham itu air pembasuh
mukanya (pandangan hidupnya) dan lepaskan pandangan lama yang yang masih melekat,
ganti dengan pandangan yang baru , Jadikan
pandangan baru itu membasuhi karya
karyanya (membasuh tangannya), dan jadikan pandangan itu arah perjalanan laku
menuju kesadaran yang sejati (membasuh kakinya).
Jika dalam kondisi kotor , belum paham ,
bisa mengambil prinsip paham tanah , yaitu tanah yang baik, yang membuat
tanaman tanamannya tumbuh subur. Allah tidak
mempersulit untuk manusia pembersihan diri,
Dia hendak menyempurnakan nikmatNya.
Ketika bacaan diucapkan , tentu bacaan
itu tidak dapat dimengerti ketika dalam kondisi mabuk (tidak sadar diri) ,
bukan karena alkohol, tapi karena telah minum ajaran yang memahamkan sesuatu yang menjadikan kiblatnya berbeda , sehingga bangunan paham bacaanNya tidak dapat
didirikan/dipahami.
5 Al Maeda (6)
4 An Nisa (43)
7 Al Araf (58)
Kenapa Dirikan sholat dan Tunaikan
Zakat seringkali disebutkan berpasangan dalam AlQuran, dirikan
sholat (dirikan bangun paham), dan tunaikan zakat (=tunaikan kemurnian/pembersihan,
24:21, 28,30 ). ?
Pahami bacaan , dipahami dengan apa
adanya (netral), tidak dikeraskan , ditinggikan atau direndahkan.
Ketika telah dirikan bangun paham apa
adanya, lepaskan paham paham lama yang mengotori jiwa (Tunaikan pembersihan/pemurnian/zakat
) gantikan bangun paham lama dengan paham baru yang terbangun dariNya, hingga paham bertumbuh, Sehingga dinyatakan dalam AlQuran sebagai kalimat yang berpasangan Dirikan Sholat dan Tunaikan Zakat.
Dirikan pahamNya dan bersihkan/lepaskan paham
selainNya. Hingga paham yang murni itu
menjadikannya imannya, yang menuntun
laku taat atas dasar imannya.
Maka pertumbuhan bangun paham, dan
pelepasan paham lama/pembersihan paham
(tunaikan zakat) akan menumbuhkan iman (keyakinan) kepada yang sejati ,
menjadikannya arah pandangan untuk laku taat (amal soleh), atas amal yang
diperbuat akan dibacakan dan membaca sesuatu yang menumbuhkan bangun
pahamnya yang akan mewujud dalam wujud perubahan
karakter diri, sifat kemuliaan, cinta kasih, adil, bijak, menolong , mampu
melihat atas apa yang terjadi (waskita),
berdaya , mampu berjalan mengambil
keputusan dengan tepat.
Siklus pertumbuhan jiwa terjadi
berproses yang membuat manusia berada
dalam jalur garis edar siklus orbitnya “beriman, beramal soleh, dirikan sholat
dan tunaikan zakat” (beriman, berbuat taat, dirikan bangun paham , tunaikan kesucian/kemurnian) , yang
akan membuat perjalanan jiwa tidak bersedih dan tidak khawatir, Sebagaimana
kestabilan orbit lintasan garis edar gelap terangnya bumi , garis
edar bulan ketika sabit dan purnama, dikegelapan
bumi karena posisi bumi yang gelap malam tertutup oleh sebagian belahan bumi itu
sendiri dari cahaya matahari. Dari
iman yang sedikit, dijadikan iman itu laku taat atas apa yang di imaninya, dari lakunya akan dibacakan sesuatu yang menumbuhkan bangun pahamnya ketika
paham itu dibaca dan didirikan dalam qolbunya , dan melepas paham lama diganti
dengan paham baru , untuk memurnikan/membersihkan jiwanya (tunaikan zakat), bangun paham
baru menumbuhkan imannya dan menjadi
arah pandangan bagi laku taatnya, siklus berotasi, bertumbuh. Sebagai Lintasan
Orbit pertumbuhan jiwa tidak bersedih dan tidak khawatir.
2 Al Baqarah (277)
97 Al Qadr 1-5
Dengan dirikan bangun paham (dirikan
sholat) ayat ayat Allah, kepahaman mengajarkan hal hal sebagai berikut :
-
mencegah perbuatan tidak bermoral dan
melawan 29;45,
-
mengajarkan yang manusia tidak tahu
2;238-239
-
menyuruh untuk mengatakan
tinggalkan paham nenek moyang 11;87
-
sholatnya penolongnya 2;45
-
sujudnya/taatnya jiwa pada apa yang terkandung dalam AlQuran 84;21
-
dirikan bangun paham diwaktu gelap, remang /ragu agar menjadi
terpuji 17;78-79
-
sholatnya untuk mengingat Allah
20;14, yang diingat tentu bukan sekedar kata " Allah"
tetapi adalah paham (Bayt) Allah
yang mewujud dalam berbagai wujud paham Ketetapan
dan Hikmah dari Allah 43;4, bersumber dari ayat-ayatNya 7;179, 22;46,
dari yang dibacakan, dibaca dan
dipahami 29;45
-
sholatnya menggunakan petunjuk
dari AlQuran 2;2-3, 27;1-3,
-
jangan sholat dimasjid (jangan berpaham
di tempat sujud/taat)
kemudharatan, kekafiran, dan kemusrikan 9;107-108
-
sholatnya didalam tempat sujud/taat
(masjid) yang dibangun sejak awal dengan dasar takwa, yang akan
membersihkan hatinya dari paham kemudhararan, kekafiran,
kemusrikan, membangun keimanan dalam hati , bukan bangun keraguan hati
9;108-110, 2:127- 132, takwa=3:133-139
-
sholatnya menjadikan manusia berbuat
kebajikan, benar dan bertakwa 2;177
-
sholatnya menyadarkan dirinya
atas apa yang ia ucapkan/baca 4;43
-
ketika jiwa diperjalankan, tidak mengapa
sholatnya (pahamnya) sedapatnya (dari yang mudah) , jika ia kawatir kekafiran
hendak memalingkannya 4;101, karena kekafiran
dapat mamalingkan , dan
langkahnya terhenti selamanya 18;20
-
sholatnya ketika memimpin menyisihkan kekafirannya, diperkuat (dipersenjatai) dengan ayat-ayatNya
untuk penyadarannya dan ia sujud/taat kepada ayat-ayatNya, maka ia (jiwa/nafs)
akan berada dibelakangmu (mengikuti kepahaman baru kolbu/Qulb), kemudian berlanjut
dengan yang belum sholat (belum
paham) untuk dirikan sholat bersamamu, jangan lalaikan ayat-ayatNya
(persenjataannya) , ingatlah selalu/jangan lalai (letakkan), kelalaianmu akan
ayat-ayatNya menjadikannya rintanganmu (hujan) atau sakit 4;102, 73;20
-
ketika sholatmu (pahammu)
teguh , ingatlah setiap saat, untuk melandasi pandangan laku hidupmu,
pendirianmu, kedudukanmu, pendamping/ pembimbingmu, ketika berada ditepi
(ambang kepahaman/keraguan, dua tepi siang/keraguan, tepi jurang
kecelakaan) 22;11, 11;114, 9;109 dirikan sholat, sholat ditetapkan
waktunya bagimu 4;103
-
Sholatnya di bayt (rumah) hanya siulan
dan tepuk tangan , 8;35, sebagai sesuatu yang tidak bermakna , pahamnya tidak
terbangun sebagaimana bangun rumah (paham) yang dibacakan atas dasar ayat-ayat
nyata (benar), yang dibacakan dari
perjalanan hidupnya. Rumah tempat sujud (masjid) yang dibangun dengan pondasi
takwa lebih layak untuk dirikan sholat (dirikan paham atas dasar ayat-ayat
nyata bagi keselamatan dirinya) 9;107-110
Ayat-ayat tersebut menyusun bangun
paham bahwa sholat bermakna paham, paham
yang didapat dari ayat-ayatNya yang menyusun suatu keimanan/keteguhan hati
berupa ketetapan (kitab) dan hikmah (kemanfaatan) kehidupan, yang ada dalam
hati untuk memerintah diri beramal, berbuat taat , bukan menghadapkan wajah ke arah mata angin barat/timur 2;177. Atau hal
yang sia2 8;35.
Perintah dirikan sholat dan tunaikan zakat, di perjalankan melalui
pertumbuhan iman dan berbuat taat. Pertumbuhan iman dan berbuat taat membacakan
bacaan yang menyusun bangun paham dan pensucian/pelepasan.
Proses tersebut menyatu terlihat, terdengar dan dirasakan ketika angan
pikiran, cipta, keinginan, perasaan diendapkan (ditunduk sujudkan) dengan
kesadaran sikap Menerima atas semua kenyataan hidup , dengan kesadaran bahwa apapun kenyataan (kebenaran)
yang terjadi adalah Bacaan ayat yang sedang dibacakan, untuk dimengerti yang
akan memberi petunjuk, pandangan baru untuk
ditaati.
Ia dapat berupa pengungkapan/wahyu dari
Ruh perintah, bacaan dibalik tabir
(makna dibalik peristiwa), dan dari utusan berbagai wujudnya yang membacakan sesuatu.
Ketiga hal tersebut dapat diterima
dalam kondisi hening sedang apapun,
tidur (mimpi), hening dalam duduk, berdiri, hening dalam beraktivitas apapun. Hening sebagai sikap yang didahului dengan
sikap kesadaran pada tunduk sujudnya jiwa pada Ruh Suci yang melihat, mendengar,
merasa , membacakan sesuatu disetiap waktu.
Ketika penerimaan itu diingat, dijalani dengan keberserahan
diri , menentramkan, mendamaikan , kehidupan terfasilitasi, perjalanan
tersupport, maka dirikan pahamNya,
lepaskan paham lama, tumbuhkan iman, jadikan ingatan yang menuntun laku.
Namun jika sebaliknya paham dan lakunya
membuat kehidupan terpuruk, terhenti , buntu
yang terjadi, maka hening, baca kembali, atas tanda yang dibacakan untuk menerima kembali petunjukNya…
Kondisi hening , dan kemampuan melihat bagi pembelajar , pejalan yaitu diwaktu
tubuh tidak beraktifitas, pikiran yang serba terbatas dan liar ditundukkan
, diletakkan dengan Daya Ruh Suci (Kesadaran) , dengan kondisi senyamannya ketika tubuh tidak beraktifitas,
bisa dengan ketika duduk bersila, pejam
mata, mempersilahkan sepenuhnya Ruh Suci menguasai seluruh diri , menyatu terhubung
dengan Ruh Semesta, Allah Tuhan Semua Alam. Dan Kondisi hening, dibawa ketika beraktifitas
dengan kondisi jiwa yang tetap tunduk sujud ,
berjalan mengikuti kehendak dan
kuasa Ruh Suci, Kesadaran murni.
Dirikan bangun paham ayat ayat Allah
yang dibacakan sebagai lintasan jalan ketika
Jiwa terlahir dimuka bumi yang di lengkapi dengan kelengkapan perjalanan menyempurnakan jiwanya yaitu Kolbu/Qulb (Ruh Kesadaran) sebagai pasangan jiwanya (qulb dan nafs) yang mewujud
dimuka bumi sebagai sosok diri ciptaan manusia. Yang diberi kuasa duniawinya masing masing (JAGADnya)
yang setiap manusia tidak ada
yang sama, namun mereka semua seJATInya adalah Ruh Kesadaran yang Tunggal , sebagai umat yang Tunggal, yang menjalani peran (LAKON) sesuai amanat jiwanya terlahir dimuka bumi, dengan tugas misi jiwa dari perintahNya (TITAH) dari Ruh Suci untuk diperbuat dimuka
bumi (LAKU). Jagad, Jati, Lakon, Titah, Laku, mewujud dimuka bumi membawa amanat MEMAYU
HAYUNING BAWANA (Memperindah Indahnya Dunia) , atau dalam Quran memiliki
keselarasan makna Rahmat bagi semesta alam, kelima hal yang dikenal didunia spiritual jawa sebagai ka lima
sada ( sada= batang lidi/sapu lidi) , sebagai
5 pilar perjanjian misi jiwa ketika manusia terlahir dimuka bumi. Kelima sada yang dekat dengan pengucapan Kalimat
Syahadat, memiliki keselaraasan makna dari Kalimat Syahadat dalam AlQuran ,
sebagai ikrar perjanjian jiwa dengan Allah ketika terlahir dimuka bumi, Sebagai
syahadat yang Tunggal. Tidak berganda.
6 Al Anaam 19 (Syahadat Tunggal)
7 Al Araf 172-179 (Syahadat Tunggal)
63 Al Munafiqoon 1-6 (syahadat
berganda)
33 Al Ahzab 72
21 Al Anbiya 105- 112
Taati Allah dan RasulNya adalah perintah
kepada yang Tunggal , bukan yang berganda (terpisah/berbeda). Karena Allah
berkalimat kepada manusia melalui wujud RasulNya
yang membacakan ayatNya. Sebagaimana bulan yang menerangi kegelapan bumi, Cahaya
itu dari sumber yang Tunggal yang
mengalir melalui pantulan perantara bulan. Cahaya kepahaman yang menerangi yang
dipancarkan terkirim dibacakan melalui ayat ayatNya.
3 Al Imran 32
42 As Shura 41-52
22 Al Hajj 75-78
Maka perintah dirikan sholat, sejatinya
perintah untuk menyadari memahami perjalanan kehidupan didunia ini terhubung manunggal dengan bimbingan Ruh Perintah dariNya. Yang perintah
syariatNya kepada semua penyampai pesan Tuhan dan kepada diri adalah sama, dirikan din (sikap/karakter) ,
yang terbangun dari bangun pahamNya , dari susunan ayatNya berupa KETETAPAN dan HIKMAH , sesuai dengan KETETAPAN
waktuNya , bacaanNya , arah kiblat
bangun pahamNya , kesucian/kemurnianNya
dan jangan berselisih tentangnya. KETETAPAN yang jika diperbuat akan memberi HIKMAH keberkahan bagi kehidupan dimuka bumi. Ketetapan Archimedes
, Newton, Faraday , E=mC2 , Pancasila, Waktu dan semua Ketetapan Hukum Semesta kehidupan
memberi Hikmah keberkahan keberadaan berbagai ciptaan dimuka bumi. Keberadaan
ciptaan kendaraan mengarungi lautan atau udara adalah Hikmah dari KetetapanNya
yang mewujud. Rotasi lintasan orbit terjadinya gelap, remang, fajar , purnama,
sabit, sakit, sehat, sedih, bahagia , berhikmah memahami makna waktu waktu didalam
perjalanan, mengetahui waktu waktuNya. Siklus
siklus AwalNya dan AkhirNya (akhirat), membangun pahamNya, melintasi garis edar
perjalanan pertumbuhan jiwa.
18 Al Kahf (65-82)
43 Az Zukruf (1-15)
Diungkapkan terdapat 10 karakter,
perilaku , sikap manusia laki atau perempuan yang dapat membangun , menumbuhkan kesadaran , atas apa yang dibacakan untuk ampunan dan balasan yang besar.
33 Al Azhab (34-36)
2 AlvBaqara ( 277)
Semua yang mewujud pada setiap diri dan
semua ciptaan dimuka bumi adalah BacaanNya (AlQuran) , terkandung Ketetapan dan Hikmah, Hukum (Taurat)
dan kabar baik (Injil) bagi semesta alam. Dibalik semua perwujudan terdapat
tanda tandaNya yang memberi petunjuk bagi jiwa yang sujud
terhubung pada perintahNya. Perwujudan
fenomena Ombak, lautan , petir,
kesedihan, kebahagiaan , waktu, adalah Kalimat2
Agung dan Suci dari Nya yang membacakan tabir bangun paham Ketetapan dan Hikmah dibaliknya,
untuk dibaca , dipahami dan ditaati sebagai arah kiblat menjalani perjanjian kelahiran sebagai manusia ketika terlahir dimuka bumi.
24 An Noor (39-57)
42 Ash Shura (13 , 52)
2 Al Baqara (125, 187, 213, 277,
284-286)
5 Al Maeda (110-120)
33 Al Ahzab (35)
19 Maryam (16- 34)
7 Al Araf (144)
2 AlBaqarah (164)
30 Ar Room (17-60)
27 An Naml (46-93)
3 Al Imran (48)
31
Luqman (21-22)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar